Sensasi Stop Making Sense

image-w1280

Sudah lama saya tahu nama band satu ini, salah satunya karena Radiohead adalah nama yang dicatut dari satu judul lagu mereka, tapi belum sekalipun mencoba mendengarnya. Meski enggak hapal lagu-lagunya, setelah nonton Stop Making Sense, saya otomatis langsung jadi fans Talking Heads. Band rock Amerika yang dibentuk 1975 di New York, mengawali diri sebagai punk kemudian selanjutnya bersinkretis ke funk, menjadi salah satu pionir genre new wave.

Saya menonton Stop Making Sense lewat Youtube. David Byrne, sang vokalis Talking Heads, berjalan ke sebuah panggung melompong di Pantages Theater di Los Angeles mengenakan jas abu-abu, yang tampak lusuh, dan sepatu putih dan membawa boombox. “Hi,” katanya pada penonton. “I got a tape I want to play.” Dia meletakkan stereo, membawakan “Psycho Killer,” dan semuanya menjadi hidup. Kemudian Tina Weymouth sang bassis bergabung di atas panggung untuk memulai lagu berikutnya. Tiap lagu, pemain band lain terus muncul satu per satu. Petugas panggung keluar dari sisi panggung dan mulai menyusun platform bagi sang drummer Chris Frantz. Lalu masuk Jerry Harrison membawa gitar. Berbagai peralatan musik disiapkan di panggung, kabel-kabel terpasang.

Minimalisasi dan dekonstruksi lengkap dari pengaturan panggung konser diartikulasikan dengan indah di seluruh pertunjukan dengan potongan-potongan, baik itu latar, peralatan, pemain, ditambahkan sedikit demi sedikit. Butuh empat lagu sebelum seluruh anggota band tampil di panggung bersama, dan bahkan ada lagi yang akan bergabung. Musisi tambahan masuk: vokal pendukung Lynn Mabry dan Ednah Holt, synthenizer Bernie Worrell, pemain perkusi Steve Scales, dan gitaris Alex Weir. Dan konser makin menggelora.

Stop Making Sense, dirilis pada 1984, adalah sebuah kehebohan selama 88 menit. Direkam selama empat malam di Pantages Theatre di Hollywood pada bulan Desember 1983, ketika kelompok itu sedang tur untuk mempromosikan album baru mereka Speaking in Tongues. Judulnya diambil dari lirik lagu “Girlfriend Is Better”: As we get older and stop making sense...

Yang jadi sorotan tentu saja sang garda terdepan David Byrne. Melihatnya bergerak seperti manusia elastis dengan mik, kakinya dan pinggulnya tampaknya bekerja secara independen dari tubuh bagian atasnya, cukup mengesankan. Joget aneh, kejang-kejang, berlarian di atas panggung, berdansa dengan lampu, dan banyak gaya nyeleneh lain. Yang paling ikonik tentu saja kemeja kerja super gede, yang terinspirasi dari teater Jepang.

Enggak akan pernah ada film seperti Stop Making Sense. Sebagian besarnya memang berkat andil dari band tersebut, karena ini memang konser mereka, tapi mungkin enggak akan ada dalam bentuknya yang dinamis dan unik jika enggak ditangai sutradara Jonathan Demme – yang nantinya menelurkan The Silence of the Lamb (1991) dan The Manchurian Candidate (2004).

Ada banyak film konser hebat yang mengabadikan band-band di saat-saat puncak mereka. Namun, enggak satu pun dari mereka menggunakan media sinematik sebaik Stop Making Sense. Justru lewat kesederhanaan, film konser ini terasa megah. Sebagai sebuah film konser, juga sebagai sebuah film, Stop Making Sense menang di banyak bidang: sebagai hiburan, sebagai teater eksperimental, sebagai pertunjukan musik, atau sebagai latihan dalam dekonstruksi.

“Keahlian Jonathan adalah untuk melihat pertunjukan itu hampir sebagai bagian dari pertunjukan teater, di mana karakter dan keanehan mereka akan diperkenalkan kepada penonton, dan kamu akan mengenal band sebagai orang, masing-masing dengan kepribadian yang berbeda,” kata David Byrne dalam euloginya, diposting setelah kematian Demme pada April 2017. “Mereka menjadi temanmu, dalam arti tertentu.”

Demme menyukai syut dari sudut pandang penonton, layaknya fancam kekinian di Youtube, dan membuatnya terasa mendalam. Demme menghindari syut reaksi penonton, yang menciptakan perasaan bahwa kita bukan penonton, melainkan bagian dari band. Syut close-up pada Byrne dan pemain Talking Heads lainnya sering dilakukan, menciptakan semacam keintiman.

Talking Heads memang beranggotakan para murid sekolah seni, sehingga nyeleneh artsy. Sejak 1980-an, live musik pop, berkat Talking Heads, menjadi sesuatu yang lebih seperti seni pertunjukan. Pementasan jadi sesuatu yang penting, dan penonton akan segera datang untuk mengharapkan kostum yang nyentrik, pencahayaan yang canggih, dan koreografi yang luar biasa.

Stop Making Sense seperti crescendo selama 88 menit, sebuah proyek seni yang berkembang yang semakin rumit dan menarik seiring perkembangannya. Demme, dengan sinematografer Jordan Cronenweth yang sebelumnya menangani Blade Runner (1982), menangkap bagaimana rasanya berada di sana. Dan bahkan jika kamu sepuluh ribu kilometer dari Los Angeles pada tahun 1983, kamu dapat membayangkan berada di baris depan panggung, menari seperti orang gila.

 

 

 


Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Robih )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Robih )

Connecting to %s