Richard Wright dan Konferensi Bandung

Ketika mengurus kartu pers, ia terkejut betapa ia disambut ramah dan didahulukan antreannya – sebuah perlakuan yang tak terjadi buat seorang kulit hitam di Amerika Serikat. Tatkala datang ke Bandung, ia tergetar. Ia melihat berbagai delegasi dengan latar belakang agama – Islam, Katolik, Buddha, dan Hindu – serta komunis, bisa berbaur menjadi satu. Bagaimana mungkin sebuah negara bayi yang baru berumur sepuluh tahun bisa menghimpun politikus berwarna – kuning, hitam, cokelat, dan sawo matang dari penjuru dunia. Ia tercekam. Menurutnya, pertemuan “umat ras berwarna” itu di luar imajinasi yang pernah dibayangkan oleh penulis-penulis Eropa mana pun. Ia menulis dalam The Color Curtain: A Report on the Bandung Conference:

Pada awal revolusi Rusia, Lenin pernah bermimpi akan membuat pertemuan semacam ini. Pertemuan dari semua unsur ras yang terbuang dan dianggap underdog. Tapi itu tidak pernah terlaksana. Sesungguhnya banyak penulis Barat, seperti H.G. Wells dan Lothrop Stoddard, yang telah memprediksi bakal bangkitnya negara-negara eks kolonial, tapi dalam imajinasi terliar mereka pun mereka tidak pernah membayangkan suatu forum semacam ini bisa terjadi

Sebelumnya, ketika tinggal sebagai seorang ekspatriat di apartemennya di Paris, menjelang Natal 1954, pada suatu sore matanya tertumbuk pada sebuah berita di koran bahwa sebanyak 29 negara Asia dan Afrika eks kolonial akan berkumpul di Bandung membahas masalah rasialisme dan kolonialisme. Ia begitu tergugah oleh simbolisme luar biasa konferensi itu dan merasa terdorong untuk melakukan ziarah pribadi ke pertemuan bersejarah itu. Untuk menutupi biaya perjalanannya, ia membuat kesepakatan dengan Congress for Cultural Freedom – yang nantinya diketahui bahwa lembaga ini disokong CIA.

Ia melakukan perjalanan ke Indonesia, tiba pada 12 April dan balik tiga minggu kemudian pada 5 Mei. Selama di Indonesia, sebagai pengamat tidak resmi ia menghabiskan 18–24 April untuk melaporkan konferensi. Kemudian ia menghabiskan dua minggu sisa perjalanannya di Indonesia untuk berinteraksi dengan berbagai penulis dan intelektual Indonesia, termasuk Mochtar Lubis, Sutan Takdir Alisjahbana, Asrul Sani, Ajip Rosidi, Achdiat Karta Mihardja, Beb Vuyk, dan lainnya. Dia juga memberikan beberapa ceramah: di sebuah acara seni yang diadakan di rumah walikota Jakarta, untuk pertemuan klub studi Takdir Alisjahbana, untuk sekelompok mahasiswa, dan untuk PEN Club Indonesia. Setelah kembali ke Paris, ia bekerja siang dan malam untuk menyelesaikan bukunya ini dan akhirnya mengirimkannya ke agen sastra pada 20 Juni.

Sejak diterbitkan pada tahun 1956, buku catatan perjalanannya ini menjadi kisah tangan pertama yang sering dikutip dalam narasi Konferensi Asia-Afrika dan kajian pascakolonial. Warisannya terletak pada romantisasi dari persatuan emosional yang ditampilkan di Bandung. Dengan laporan tentang apa yang terjadi di Bandung ini, ia mengambil tempat sentral di panggung internasional dan berfungsi sebagai pertanda perubahan sosial dan politik di seluruh dunia. Dia mendesak negara-negara Barat, yang sebagian besar bertanggung jawab atas kemiskinan dan ketidakpedulian di bekas jajahan mereka, untuk menghancurkan rintangan rasial dan untuk bekerja dengan kepemimpinan negara-negara baru. Lewat buku ini, ia menjadi pendahulu era multikulturalisme dan penganjur transformasi global.

richard-wright

The Color Curtain ditulis Richard Wright, seorang penulis Afro-Amerika. Banyak karyanya, dari puisi, cerpen, novel dan non-fiksi, membahas tema-tema rasial, khususnya yang berkaitan dengan nasib buruk orang-orang Afrika-Amerika selama akhir abad 19 hingga pertengahan 20, yang menderita diskriminasi dan kekerasan di Selatan dan Utara. Pada tahun 1955, Wright adalah seorang novelis yang populer dan sukses dan seorang advokat terkemuka untuk hak-hak Afrika-Amerika, baik di negara asalnya Amerika Serikat maupun di luar negeri. Dia menjadi dikenal oleh khalayak luas pada tahun 1940, dengan keberhasilan novelnya Native Son, dan otobiografinya pada tahun 1945, Black Boy, yang menjadi buku terlaris nomor tiga selama tiga bulan. Tetapi Wright meninggalkan Amerika Serikat pada tahun 1946 untuk menghindari prasangka ras yang terus berlanjut dan mematikan.

Bandung meninggalkan kesan mendalam bagi Wright. Saat pidato pembukaan Sukarno, Wright duduk bersama 376 wartawan lain di balkon. Di Bandung, 17 ribu kilometer dari tanah kelahirannya di Mississippi, untuk pertama kalinya Wright mendengarkan pidato yang menggugahnya. “Ketika saya duduk mendengarkan, saya mulai merasakan hubungan yang mendalam dan organik di sini di Bandung antara ras dan agama, keduanya merupakan kekuatan yang paling dahsyat sekaligus irasional milik manusia,” ujar Wright. “Sukarno tidak bermaksud membangkitkan ‘iblis kembar’, tapi mencoba mengorganisasinya.”

Di Gedung Merdeka, Wright menyimak satu per satu pidato pemimpin negara, dari Sukarno, Ali Sastroamidjojo, Norodom Sihanouk, Sir John Kotelawala, sampai Gamal Abdel Nasser. Wright yang menjadi anggota partai komunis sejak berumur 12 tahun itu menyebutkan dalam bukunya ini bahwa Konferensi Bandung adalah fenomena bertemunya gerakan dan pemikiran di luar kiri atau kanan.


Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Robih )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Robih )

Connecting to %s