Kodok Super Melindungi Tokyo [2/2]

Saat Katagiri tiba di tempat kerja keesokan harinya pukul sembilan, telepon di mejanya berdering. “Tuan Katagiri,” kata suara seorang pria. Dingin dan lugas. “Nama saya Shiraoka. Saya seorang pengacara dalam kasus Big Bear. Saya menerima telepon dari klien saya pagi ini berkaitan dengan masalah pinjaman tunda. Dia ingin Anda tahu bahwa dia akan mengambil tanggung … More Kodok Super Melindungi Tokyo [2/2]

Kodok Super Melindungi Tokyo [1/2]

Katagiri mendapati seekor katak raksasa menunggu dia di apartemennya. Katak yang kekar, berdiri setinggi lebih dari enam kaki dengan tumpuan kaki belakangnya. Hanya seorang laki-laki kecil kurus tidak lebih dari satu setengah meter, Katagiri tentu kalah telak oleh tubuh raksasa sang katak. “Panggil saya ‘Bangkong,’” kata katak dengan suara berat yang jelas. Katagiri berdiri terpaku di … More Kodok Super Melindungi Tokyo [1/2]

Burung Nejimaki dan Wanita-wanita Hari Selasa, Haruki Murakami [2/2]

Sebelum pukul dua tepat, aku memanjat dari halaman belakangku melewati dinding batako masuk ke gang. Sebenarnya, ini bukan seperti gang yang kau bayangkan seperti gang pada umumnya; itu hanya penamaan dari kami karena tak punya nama lain yang lebih bagus. Sesungguhnya, itu bukan gang. Sebuah gang punya jalan masuk dan keluar, menghubungkan dari satu tempat … More Burung Nejimaki dan Wanita-wanita Hari Selasa, Haruki Murakami [2/2]

Burung Nejimaki dan Wanita-wanita Hari Selasa, Haruki Murakami [1/2]

Aku sedang di dapur memasak spaghetti saat wanita itu menelepon. Beberapa saat sebelum spaghetti matang; di sanalah aku, menyiulkan awalan dari La Gazza Ladra-nya Rossini yang sedang diputar radio FM. Sungguh sempurna memasak spaghetti diiringi musik yang pas. Aku mendengar dering telepon tapi membatin, Acuhkan saja. Biarkan spaghetti matang dulu. Hampir beres, dan di samping itu, … More Burung Nejimaki dan Wanita-wanita Hari Selasa, Haruki Murakami [1/2]

Syahrazad, Haruki Murakami [2/2]

SEPULUH hari kemudian, Syahrazad bolos sekolah lagi dan berkunjung untuk kedua kalinya ke rumah si lelaki. Saat itu pukul sebelas pagi. Seperti sebelumnya, dia memungut kunci dari bawah keset kemudian membuka pintu. Sekali lagi, kamar lelaki itu masih tampak sempurna. Pertama, Syahrazad memilih pensil yang sudah digunakan dan dengan hati-hati memindahkan ke dalam kotak pensilnya. Kemudian dengan hati-hati dia … More Syahrazad, Haruki Murakami [2/2]